Hari Kesembilan Pascabanjir, Warga Aceh Tamiang Masih Kelaparan

Negara Dipertanyakan Hadir atau Tidak Di Tengah Warga Yang Kehilangan Tempat Tinggal

- Reporter

Senin, 8 Desember 2025 - 13:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tamiang, Beritamedannews.com — Sembilan hari pascabanjir bandang yang meluluhlantakkan 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh pada Kamis (27/11), penderitaan warga Kabupaten Aceh Tamiang belum juga berakhir. Hingga Sabtu (6/12), ribuan warga masih bergelut dengan keterbatasan pangan, kerusakan rumah, serta minimnya sentuhan bantuan resmi dari pemerintah.

 

Pantauan langsung awak media di lapangan menunjukkan, pemulihan berjalan tersendat. Aktivitas masyarakat belum pulih. Arus lalu lintas di jalur perbatasan Aceh–Sumatera Utara memang sudah bisa dilalui, namun di banyak titik jalan masih tertutup lumpur tebal dan material longsoran yang belum sepenuhnya dibersihkan.

 

Memasuki kawasan Kuala Simpang hingga Tualang Cut, luka bencana tampak nyata. Deretan rumah warga porak-poranda, sebagian besar rata dengan tanah. Tingkat kerusakan di sejumlah titik bahkan mendekati 100 persen. Kendaraan ditemukan berserakan di badan jalan, sebagian masih terendam lumpur, tanpa diketahui siapa pemiliknya.

 

Di tengah kehancuran itu, muncul satu pertanyaan besar dari warga: di mana negara saat rakyatnya berjuang bertahan hidup?

 

Sembilan Hari Tanpa Bantuan Layak

 

Berdasarkan keterangan warga yang berhasil dihimpun awak media, bantuan belum menjangkau seluruh wilayah terdampak, terutama desa-desa yang berada jauh dari pusat kota.

 

Salah satunya di Tanjung Mancang, Kecamatan Kejuruan Muda. Warga di wilayah ini mengaku hingga hari kesembilan pascabanjir belum menerima bantuan pangan secara layak.

Baca Juga :  Gudang Judi Ikan di Pasar VII Berhenti Beroperasi, Warga: Sudah Lama Tutup

 

Bu Lia, salah satu warga terdampak, menuturkan kondisi memilukan yang dialami ibunya yang tinggal sendiri di wilayah tersebut.

 

“Rumah orang tua saya sudah habis, bang. Dia punya warung, semuanya habis. Waktu air mulai surut di tempat saya di Salahaji, saya langsung menjemput mamak. Saya kaget, rumah dan warungnya sudah hancur semua. Yang paling menyakitkan, mamak bilang dia kelaparan karena tidak ada bantuan yang datang,” ujar Bu Lia, Sabtu (7/12).

 

Ironisnya, bantuan yang datang bukan dari pemerintah, melainkan dari kepedulian warga.

 

“Bantuan justru datang dari warga. Anaknya kerja di Medan, kirim beras 50 kilo dan mi instan. Itu pun dibagi dua muk beras dan dua bungkus mi untuk satu keluarga. Dari pemerintah tidak ada, bang. Kalau di Salahaji memang ada bantuan desa, tapi satu karung beras 5 kilo dibagi untuk dua keluarga, mi instan cuma 10 bungkus,” ungkapnya.

 

Bu Lia berharap pemerintah tidak hanya datang membawa data dan janji, tetapi benar-benar membantu membangun kembali rumah orang tuanya yang kini rata dengan tanah.

 

“Orang tua saya janda, sekarang tidak punya apa-apa lagi,” ucapnya lirih.

Baca Juga :  Polres Padangsidimpuan Gagalkan Perdagangan Satwa Dilindungi, Kulit Harimau Dahan dan Sisik Trenggiling Disita

 

*“Kami Lari Seperti Dikejar Kematian”*

 

Kesaksian pilu juga datang dari seorang pemilik warung di kawasan Simpang Palang Merah Pondok Kelapa. Warung yang sekaligus menjadi tempat tinggal keluarganya itu hancur disapu banjir bandang.

 

Saat air naik dengan cepat, ia bersama istri dan dua anaknya hanya punya satu pilihan: lari menyelamatkan diri ke perbukitan.

 

“Sudah seperti di film, bang. Biasanya kita nonton, sekarang kita yang jadi aktornya. Satu anak saya gendong di kepala, satu lagi saya pikul, lari ke atas bukit,” katanya.

 

Dari atas bukit, ia menyaksikan sendiri bagaimana arus deras dari gunung menghantam warungnya hingga lenyap bersama tiga unit sepeda motor.

 

“Tiga motor hanyut. Alhamdulillah, satu motor NMAX saya temukan lagi di kebun sawit, terbawa arus,” ujarnya.

 

Negara Diuji di Tengah Bencana

 

Hingga berita ini diturunkan, warga Aceh Tamiang masih menunggu kehadiran negara secara nyata, bukan sekadar himbauan dan pendataan. Di tengah rumah yang hancur, perut yang lapar, dan akses bantuan yang tersendat, pemerintah diuji: benarkah negara hadir untuk mereka yang paling membutuhkan?

 

Bencana telah merenggut harta, tempat tinggal, bahkan rasa aman warga. Namun yang kini paling mereka takutkan adalah satu hal, dilupakan!!

Follow WhatsApp Channel beritamedannews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Satresnarkoba Polres Padangsidimpuan Tangkap TO Pembawa 900 Gram Ganja di Jalinsum Batunadua
Sigap Tanpa Jeda, Polsek Gunung Malela Ringkus Pelaku Pencurian HP dalam Dua Hari
Polres Padangsidimpuan Gagalkan Perdagangan Satwa Dilindungi, Kulit Harimau Dahan dan Sisik Trenggiling Disita
Polres Padangsidimpuan Tangkap Pengepul Sisik Trenggiling di SPBU Manunggang Julu
Polres Simalungun Ungkap Transaksi Sabu di Kafe Hatonduhan, Satu Tersangka Diamankan
Gudang Judi Ikan di Pasar VII Berhenti Beroperasi, Warga: Sudah Lama Tutup
Terpisah Sejak Lama, Seorang Anak Cari Ayah Kandung Bernama Ramelan
Alamak, Kejari Binjai Tetapkan Empat Tersangka Baru dalam Kasus Korupsi Pekerjaan Fiktif
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 18:10 WIB

Satresnarkoba Polres Padangsidimpuan Tangkap TO Pembawa 900 Gram Ganja di Jalinsum Batunadua

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:17 WIB

Sigap Tanpa Jeda, Polsek Gunung Malela Ringkus Pelaku Pencurian HP dalam Dua Hari

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:07 WIB

Polres Padangsidimpuan Gagalkan Perdagangan Satwa Dilindungi, Kulit Harimau Dahan dan Sisik Trenggiling Disita

Kamis, 30 April 2026 - 16:19 WIB

Polres Padangsidimpuan Tangkap Pengepul Sisik Trenggiling di SPBU Manunggang Julu

Rabu, 29 April 2026 - 16:15 WIB

Polres Simalungun Ungkap Transaksi Sabu di Kafe Hatonduhan, Satu Tersangka Diamankan

Berita Terbaru