Aceh Tamiang, Beritamedannews.com — Sembilan hari pascabanjir bandang yang meluluhlantakkan 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh pada Kamis (27/11), penderitaan warga Kabupaten Aceh Tamiang belum juga berakhir. Hingga Sabtu (6/12), ribuan warga masih bergelut dengan keterbatasan pangan, kerusakan rumah, serta minimnya sentuhan bantuan resmi dari pemerintah.
Pantauan langsung awak media di lapangan menunjukkan, pemulihan berjalan tersendat. Aktivitas masyarakat belum pulih. Arus lalu lintas di jalur perbatasan Aceh–Sumatera Utara memang sudah bisa dilalui, namun di banyak titik jalan masih tertutup lumpur tebal dan material longsoran yang belum sepenuhnya dibersihkan.
Memasuki kawasan Kuala Simpang hingga Tualang Cut, luka bencana tampak nyata. Deretan rumah warga porak-poranda, sebagian besar rata dengan tanah. Tingkat kerusakan di sejumlah titik bahkan mendekati 100 persen. Kendaraan ditemukan berserakan di badan jalan, sebagian masih terendam lumpur, tanpa diketahui siapa pemiliknya.
Di tengah kehancuran itu, muncul satu pertanyaan besar dari warga: di mana negara saat rakyatnya berjuang bertahan hidup?
Sembilan Hari Tanpa Bantuan Layak
Berdasarkan keterangan warga yang berhasil dihimpun awak media, bantuan belum menjangkau seluruh wilayah terdampak, terutama desa-desa yang berada jauh dari pusat kota.
Salah satunya di Tanjung Mancang, Kecamatan Kejuruan Muda. Warga di wilayah ini mengaku hingga hari kesembilan pascabanjir belum menerima bantuan pangan secara layak.
Bu Lia, salah satu warga terdampak, menuturkan kondisi memilukan yang dialami ibunya yang tinggal sendiri di wilayah tersebut.
“Rumah orang tua saya sudah habis, bang. Dia punya warung, semuanya habis. Waktu air mulai surut di tempat saya di Salahaji, saya langsung menjemput mamak. Saya kaget, rumah dan warungnya sudah hancur semua. Yang paling menyakitkan, mamak bilang dia kelaparan karena tidak ada bantuan yang datang,” ujar Bu Lia, Sabtu (7/12).
Ironisnya, bantuan yang datang bukan dari pemerintah, melainkan dari kepedulian warga.
“Bantuan justru datang dari warga. Anaknya kerja di Medan, kirim beras 50 kilo dan mi instan. Itu pun dibagi dua muk beras dan dua bungkus mi untuk satu keluarga. Dari pemerintah tidak ada, bang. Kalau di Salahaji memang ada bantuan desa, tapi satu karung beras 5 kilo dibagi untuk dua keluarga, mi instan cuma 10 bungkus,” ungkapnya.
Bu Lia berharap pemerintah tidak hanya datang membawa data dan janji, tetapi benar-benar membantu membangun kembali rumah orang tuanya yang kini rata dengan tanah.
“Orang tua saya janda, sekarang tidak punya apa-apa lagi,” ucapnya lirih.
*“Kami Lari Seperti Dikejar Kematian”*
Kesaksian pilu juga datang dari seorang pemilik warung di kawasan Simpang Palang Merah Pondok Kelapa. Warung yang sekaligus menjadi tempat tinggal keluarganya itu hancur disapu banjir bandang.
Saat air naik dengan cepat, ia bersama istri dan dua anaknya hanya punya satu pilihan: lari menyelamatkan diri ke perbukitan.
“Sudah seperti di film, bang. Biasanya kita nonton, sekarang kita yang jadi aktornya. Satu anak saya gendong di kepala, satu lagi saya pikul, lari ke atas bukit,” katanya.
Dari atas bukit, ia menyaksikan sendiri bagaimana arus deras dari gunung menghantam warungnya hingga lenyap bersama tiga unit sepeda motor.
“Tiga motor hanyut. Alhamdulillah, satu motor NMAX saya temukan lagi di kebun sawit, terbawa arus,” ujarnya.
Negara Diuji di Tengah Bencana
Hingga berita ini diturunkan, warga Aceh Tamiang masih menunggu kehadiran negara secara nyata, bukan sekadar himbauan dan pendataan. Di tengah rumah yang hancur, perut yang lapar, dan akses bantuan yang tersendat, pemerintah diuji: benarkah negara hadir untuk mereka yang paling membutuhkan?
Bencana telah merenggut harta, tempat tinggal, bahkan rasa aman warga. Namun yang kini paling mereka takutkan adalah satu hal, dilupakan!!

.








