Perdamaian Kasus Klinik Lina Dipertanyakan, Pengacara: Jangan Sampai Jadi Pemerasan Berkedok Restorative Justice

- Reporter

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN, BMNews|Kasus perdamaian antara bos Klinik Lina di Jalan Demak dengan salah satu pasiennya menuai sorotan publik. Proses damai yang disebut-sebut membuat dr. Surya Hartanto harus menyerahkan mobil dan uang hingga ratusan juta rupiah kepada pelapor, memicu perdebatan mengenai batas antara perdamaian dan dugaan pemerasan.

 

Menanggapi hal tersebut, pengacara muda Tri Purno Widodo, SH, angkat bicara. Menurut pria yang akrab disapa Dodo itu, proses perdamaian yang terjadi patut dipertanyakan karena dinilai memberatkan salah satu pihak.

 

Ia menilai, perdamaian yang seharusnya menjadi jalan penyelesaian justru berpotensi berubah menjadi tekanan terhadap pihak tertentu.

 

“Ini yang jadi pertanyaan. Apakah ini benar-benar perdamaian atau justru pemerasan berkedok damai? Masa perdamaian sampai membuat dokternya hampir bangkrut,” ujar Dodo.

 

Dodo menjelaskan, dalam proses perdamaian tersebut dr. Surya disebut harus menyerahkan mobil Avanza serta uang dalam jumlah ratusan juta rupiah kepada pasien berinisial LL yang sebelumnya melaporkan kasus tersebut.

Baca Juga :  FPR Diharapkan Tingkatkan Ekonomi UMKM dan Pedagang, Cocok Kelen Rasa!

 

“Kalau sampai mobil dan uang ratusan juta harus diserahkan kepada pelapor, ini patut dipertanyakan. Jangan sampai mekanisme damai malah berubah menjadi alat tekanan,” katanya.

 

Menurutnya, perbedaan antara perdamaian melalui mekanisme restorative justice dan tindakan pemerasan memang sering kali terlihat tipis, terutama dalam praktik penyelesaian perkara di luar pengadilan. Namun, ada sejumlah prinsip penting yang menjadi pembeda.

 

Dodo menjelaskan bahwa restorative justice merupakan mekanisme penyelesaian perkara yang diakui secara hukum dan bertujuan memulihkan hubungan antara korban dan pelaku.

 

“Perdamaian harus dilakukan secara sukarela oleh kedua belah pihak tanpa adanya paksaan, intimidasi, atau tekanan dalam bentuk apa pun,” jelasnya.

Baca Juga :  Kirim 5 Armada Ke Aceh Tamiang, Damkarmat Medan Pastikan Layanan Kebakaran Dalam Kota Tetap Aman

 

Selain itu, prosesnya juga harus transparan serta berada dalam pengawasan aparat penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, maupun pengadilan. Seluruh kesepakatan harus didokumentasikan secara resmi.

 

Tujuan utama dari mekanisme tersebut, lanjutnya, adalah memulihkan keadaan, memberikan kesempatan untuk meminta maaf, serta memperbaiki kerugian yang dialami korban secara proporsional.

 

Sebaliknya, jika ada unsur paksaan atau ancaman agar seseorang menyerahkan uang maupun harta benda, maka hal tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan pemerasan yang merupakan perbuatan melawan hukum.

 

“Jangan sampai mekanisme damai justru dimanfaatkan untuk menekan seseorang agar menyerahkan harta benda. Itu sudah masuk ranah pidana,” tegas Dodo.

 

Kasus ini pun menjadi perhatian publik karena dinilai dapat menjadi preseden dalam penerapan mekanisme penyelesaian perkara melalui jalur damai, khususnya agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu.

Sumber Berita: Metro24jam.id

Follow WhatsApp Channel beritamedannews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

25 Tahun Reuni IAY 2001 Hadirkan Kebersamaan Abiturient dan Guru. “Agak Laen” Memang 2001 Nich!!!! 
Perkuat Dukungan Pendidikan,Pemko Medan Beri Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi dan Kurang Mampu
Kuasa Hukum Gus Alex Minta Jokowi Dihadirkan di Sidang Dugaan Korupsi Kuota Haji
Alumni HMI Komisariat Teknik USU Sepakat Dukung Hamid Rizal Lubis Jadi Ketua MD KAHMI Medan
Heboh Aset Sekolah Rp12,24 Miliar Diduga Raib, Aktivis Resmi Adukan Disdikbud Medan ke Kejari
Lima Supplier Dihadirkan JPU, PH Soroti Efisiensi Sidang Waterfront City Samosir: Saksi yang Relevan Harus Didahulukan
Zulkarnaen Resmi Pimpin HKTI Kota Medan, Riza Usty Siregar: Sosok yang Tepat
Bukan Pemko Medan, Penentuan Peringkat DTSEN Warga Merupakan Kewenangan BPS
Tag :

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 09:55 WIB

25 Tahun Reuni IAY 2001 Hadirkan Kebersamaan Abiturient dan Guru. “Agak Laen” Memang 2001 Nich!!!! 

Jumat, 11 September 2026 - 18:44 WIB

Perkuat Dukungan Pendidikan,Pemko Medan Beri Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi dan Kurang Mampu

Jumat, 11 September 2026 - 17:37 WIB

Kuasa Hukum Gus Alex Minta Jokowi Dihadirkan di Sidang Dugaan Korupsi Kuota Haji

Jumat, 11 September 2026 - 13:55 WIB

Heboh Aset Sekolah Rp12,24 Miliar Diduga Raib, Aktivis Resmi Adukan Disdikbud Medan ke Kejari

Jumat, 11 September 2026 - 13:34 WIB

Lima Supplier Dihadirkan JPU, PH Soroti Efisiensi Sidang Waterfront City Samosir: Saksi yang Relevan Harus Didahulukan

Berita Terbaru