DELI SERDANG, BMNews — Sejumlah warga yang tinggal di sekitar dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bandar Setia 1, Dusun X, Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, menyampaikan keberatan terkait kondisi lingkungan dan aktivitas operasional dapur tersebut.
Warga menegaskan, keberatan yang disampaikan bukan merupakan bentuk penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Masyarakat tetap mendukung program tersebut, namun memohon agar lokasi dapur SPPG dievaluasi dan apabila diperlukan dipindahkan ke lokasi yang lebih layak, aman, sehat dan representatif.
Aspirasi tersebut disampaikan warga dengan mendatangi kantor KPPG/Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Sumut-Aceh pada Rabu (30/9/2026).

Dalam pertemuan itu, warga memohon agar dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi dapur SPPG Bandar Setia 1. Mereka juga meminta agar apabila hasil pemeriksaan menunjukkan lokasi saat ini kurang sesuai dengan ketentuan atau menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitar, pihak terkait mempertimbangkan pemindahan titik dapur.
Menindaklanjuti permohonan tersebut, Tim KPPG/BGN Regional Sumut-Aceh turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan pada Kamis (1/10/2026).
Tim berjumlah lima orang tersebut dipimpin Koordinator Regional BGN Sumut-Aceh, Yoga, serta didampingi warga yang menyampaikan permohonan dan perwakilan Yayasan SABDA Peduli Gizi selaku pengelola dapur.
Dapur yang menjadi lokasi pemeriksaan berada di Yayasan SABDA Peduli Gizi, Jalan Sawi 1, Dusun X, Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
•Warga Soroti Kondisi Lingkungan
Dalam permohonannya, warga menyampaikan sejumlah persoalan yang menurut mereka berkaitan dengan kenyamanan, ketertiban, kebersihan dan keselamatan lingkungan di sekitar dapur SPPG.
Salah satu keluhan berkaitan dengan munculnya bau menyengat yang menurut warga diduga berasal dari aktivitas pencucian ompreng dan tempat penampungan sampah.
Warga menyebut lokasi pencucian ompreng dan tempat penampungan sampah berada cukup dekat dengan rumah penduduk.
Karena itu, warga meminta dilakukan pemeriksaan terhadap tata letak tempat pencucian ompreng, sistem pembuangan air bekas pencucian, pengelolaan sampah serta sumber bau yang dikeluhkan.
Selain itu, warga juga mengeluhkan adanya suara bising atau keributan pada malam hari.
Menurut warga, beberapa kejadian tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas maupun persoalan internal antara mitra dan relawan SPPG.
Warga berharap pengelola dapat memastikan aktivitas operasional maupun komunikasi internal tidak mengganggu ketertiban dan waktu istirahat masyarakat sekitar.
•Aktivitas Bongkar Muat Disoroti
Persoalan lain yang disoroti adalah aktivitas bongkar-muat bahan baku dan ompreng yang disebut menggunakan jalan umum.
Menurut warga, aktivitas tersebut dinilai berpotensi mengganggu akses masyarakat, terutama karena kondisi jalan di sekitar lokasi dapur relatif sempit.
Warga juga menyampaikan bahwa jalan yang berada di sekitar dapur tersebut merupakan akses jalan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat dan kondisinya merupakan jalan buntu.
Karena itu, warga berharap keberadaan dapur SPPG tidak menyebabkan akses yang selama ini digunakan masyarakat menjadi terganggu, terutama saat kendaraan melakukan aktivitas bongkar-muat.
Menurut warga, kondisi jalan yang sempit dan buntu membuat kendaraan yang melakukan bongkar-muat membutuhkan ruang lebih luas untuk keluar-masuk maupun melakukan manuver. Warga khawatir kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas masyarakat yang menggunakan akses jalan tersebut.
Warga juga meminta pemeriksaan terhadap penempatan tabung gas yang disebut berada dekat dengan rumah warga.
Mereka meminta aspek keselamatan diperiksa, antara lain terkait lokasi penyimpanan tabung gas, jarak pengamanan, ventilasi serta instalasi yang digunakan untuk menunjang kegiatan memasak dalam jumlah besar.
Selain persoalan gas, warga menyoroti posisi area memasak yang disebut bersebelahan dengan dinding rumah warga.
Menurut mereka, panas dari aktivitas memasak dapat dirasakan hingga ke rumah yang berdampingan dengan dapur.
Karena itu, warga meminta pemeriksaan terhadap tata letak dapur, sistem ventilasi, pembuangan panas dan asap serta langkah pengendalian dampak aktivitas memasak terhadap lingkungan sekitar.
•IPAL dan Saluran Pembuangan Turut Diminta Diperiksa
Keluhan berikutnya menyangkut sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan saluran pembuangan.
Warga menyebut terdapat kondisi pada saluran pembuangan yang mereka khawatirkan berkaitan dengan limbah dari aktivitas dapur dan masuk atau terlihat pada saluran/parit lingkungan warga.
Atas kondisi tersebut, warga meminta pemeriksaan terhadap fungsi IPAL, saluran pembuangan, pengelolaan lemak melalui grease trap serta kualitas dan pengelolaan limbah cair sebelum dialirkan ke saluran lingkungan.
•BGN Turun Langsung
Turunnya Tim KPPG/BGN Regional Sumut-Aceh pada Kamis (1/10/2026) merupakan tindak lanjut atas permohonan warga sehari sebelumnya.
Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai kondisi sebenarnya di lapangan sekaligus memastikan operasional SPPG Bandar Setia 1 berjalan sesuai ketentuan, khususnya terkait kebersihan, keselamatan, pengelolaan limbah, ketertiban dan kenyamanan masyarakat sekitar.
Warga berharap hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar bagi pihak berwenang dalam menentukan langkah selanjutnya, termasuk melakukan evaluasi terhadap lokasi dapur.
Apabila lokasi saat ini dinilai kurang sesuai, warga berharap pemerintah dan BGN dapat mempertimbangkan pemindahan titik SPPG ke lokasi yang lebih baik dan representatif, sehingga program MBG tetap dapat berjalan secara optimal tanpa menimbulkan persoalan bagi masyarakat sekitar.
•Warga Dukung Program MBG
Warga kembali menegaskan bahwa aspirasi yang mereka sampaikan bukan untuk menghentikan ataupun menolak program MBG.
Menurut warga, program Makan Bergizi Gratis merupakan program yang baik dan mereka mendukung pelaksanaannya. Namun, dukungan terhadap program tersebut diharapkan berjalan seiring dengan pemilihan lokasi SPPG yang memenuhi aspek keselamatan, kesehatan, kebersihan, kenyamanan serta ketertiban lingkungan.
Dengan demikian, permohonan warga lebih ditujukan pada evaluasi dan kemungkinan pemindahan lokasi dapur, bukan penghentian program MBG.
Warga berharap dapat ditemukan solusi terbaik sehingga program MBG tetap berjalan dan masyarakat sekitar juga dapat merasakan kenyamanan serta keamanan dari keberadaan fasilitas SPPG.
•Hasil Pemeriksaan Masih Menunggu
Hingga berita ini disusun, hasil akhir pemeriksaan Tim KPPG/BGN Regional Sumut-Aceh dan keputusan terkait permohonan pemindahan titik dapur SPPG Bandar Setia 1 belum disampaikan.
Awak media Beritamedannews.com telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Koordinator Regional BGN Sumut-Aceh, Yoga, untuk meminta penjelasan mengenai hasil pemeriksaan lapangan serta tindak lanjut terhadap permohonan warga, termasuk kemungkinan pemindahan lokasi SPPG.
Namun hingga berita ini ditayangkan, yang bersangkutan belum memberikan keterangan.
Keluhan yang disampaikan warga dalam pemberitaan ini merupakan aspirasi dan laporan kondisi di lapangan yang masih memerlukan verifikasi serta penjelasan dari pihak pengelola maupun instansi terkait.
Beritamedannews.com tetap membuka ruang bagi BGN Regional Sumut-Aceh maupun Yayasan SABDA Peduli Gizi untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan terkait hasil pemeriksaan serta tindak lanjut atas aspirasi warga. (***)

.








