MEDAN, BMNews|– Maraknya kasus korupsi yang terus bermunculan di berbagai sektor pemerintahan menimbulkan keprihatinan serius di tengah masyarakat. Kondisi ini memunculkan anggapan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini semakin melemah, sementara praktik korupsi justru kian merajalela.
Pengurus Persatuan Mediagram Sumatera Utara, Ahmad Sanusi menilai, melemahnya KPK berdampak langsung terhadap menurunnya efek jera bagi para pelaku korupsi. Jika sebelumnya lembaga antirasuah itu dikenal tajam dan ditakuti, kini langkah-langkah penindakan dinilai tidak lagi seagresif dulu.
“Korupsi seolah menjadi penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Ketika lembaga pemberantasnya melemah, para pelaku justru semakin berani,” ujar Ahmad Sanusi (29/1/2026).
Ia pun menjelaskan, bahwasanya banyak penilaian terkait penegakan hukum saat ini seperti layangan, mudah ditarik kepentingan, terombang-ambing angin kekuasaan, dan kehilangan arah keadilan. Hukum terkesan tajam ke bawah namun tumpul ke atas, menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
Situasi ini memicu kekecewaan masyarakat, terutama generasi muda, yang menaruh harapan besar pada reformasi dan pemerintahan yang bersih. Alih-alih menurun, praktik korupsi justru dianggap semakin sistematis dan terstruktur.
Publik pun mendesak agar pemerintah dan DPR melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penguatan KPK, termasuk mengembalikan independensi lembaga tersebut agar mampu bekerja tanpa intervensi politik.
“Jika hukum terus dimainkan seperti layangan, maka keadilan hanya akan menjadi slogan. Negara bisa kehilangan kepercayaan rakyatnya,” tegas Ahmad Sanusi.
Ia pun berharap, pemberantasan korupsi tidak hanya menjadi jargon politik, tetapi diwujudkan melalui keberanian, ketegasan, dan komitmen nyata untuk menyelamatkan masa depan bangsa. (*)

.








