ACEH, Beritamedannews.com — Pengibaran bendera putih di sejumlah wilayah Aceh yang terdampak banjir dan longsor menuai beragam spekulasi serta sorotan tajam dari masyarakat luas. Aksi tersebut ramai diperbincangkan, baik di lapangan maupun di media sosial.
Sebagian kalangan menilai pengibaran bendera putih sebagai simbol kekecewaan dan keputusasaan warga korban bencana. Bagi mereka, bendera putih bukan sekadar kain yang berkibar, melainkan ekspresi kelelahan batin akibat penderitaan berkepanjangan pascabencana yang telah merenggut harta benda, tempat tinggal, bahkan anggota keluarga tercinta.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem menegaskan pihaknya tidak mengetahui maksud, latar belakang, maupun siapa yang menginisiasi aksi pengibaran bendera putih tersebut. Ia memastikan aksi itu tidak berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Aceh.
Pernyataan tersebut disampaikan Mualem usai menerima bantuan kemanusiaan dari Menteri Sosial Saifullah Yusuf di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (16/12/2025). Ia mengaku belum menerima laporan resmi terkait fenomena pengibaran bendera putih yang ramai diperbincangkan masyarakat.
“Saya tidak terkonfirmasi soal itu. Apa maksud mereka? Itu di luar jangkauan kita,” ujar Mualem kepada wartawan. Ia menegaskan, hingga kini Pemerintah Aceh belum memiliki informasi rinci mengenai pesan yang hendak disampaikan melalui aksi tersebut.
Sorotan juga datang dari seorang konsultan teknologi asal Aceh yang turut menanggapi fenomena tersebut melalui akun Instagram pribadinya @alfianlinux. Dalam unggahan tersebut, ia menyampaikan pandangannya terkait makna pengibaran bendera putih di tengah krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
“Bendera putih yang berkibar di Aceh hari ini bukan simbol perdamaian, bukan pula aksi politik. Ia adalah bahasa terakhir rakyat ketika daya tahan manusia telah mencapai batasnya,” tulisnya.
Ia mengaku memasuki Aceh melalui jalur darat di tengah kondisi akses yang masih lumpuh. Menurutnya, situasi di lapangan menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat bukan semata dampak bencana alam, melainkan krisis kemanusiaan yang belum tertangani secara tuntas.
“Apa yang tampak di lapangan bukan sekadar bencana. Anak-anak bertahan dengan makanan seadanya, para lansia hidup tanpa obat-obatan, dan desa-desa masih terisolasi berhari-hari tanpa sentuhan bantuan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Aceh memiliki sejarah panjang dalam memilih jalan damai melalui Perjanjian Helsinki. Menurutnya, pesan yang disampaikan masyarakat hari ini bukanlah tuntutan konflik atau keistimewaan.
“Aceh pernah memilih jalan damai melalui Perjanjian Helsinki. Hari ini, Aceh tidak meminta konflik, tidak pula menuntut keistimewaan. Aceh hanya menyampaikan satu pesan sederhana namun mendasar: jangan ditinggalkan dalam damai itu,” tulisnya.

.








